Senin, 02 November 2015

Permainan Tradisional ; Dolanan Khas Pemalang

Apa yang diwariskan leluhur kita adalah suatu bentuk budaya yang adiluhung penuh dengan makna, termasuk dalam permainan rakyat atau dolanan yang mempunyai nilai fungsi bentuk interaksi sosial sejak dini. dolanan berperan dalam membentuk anak dalam kebersamaan, bukan permainan yang mengajarkan individualisme atau egoisme seperti perrmainan modern saat ini.
Permainan tradisional? Mungkin beberapa dari kita sudah lupa atau bahkan sudah tidak kenal lagi. Ya, permainan ini masih berjaya sebelum era 90-an berakhir. Dimana ketika saat itu belum banyak permainan modern yang masuk.
Berikut kita akan coba bahas beberapa permainan tradisional yang ada di Pemalang, walapun sekarang keberadaannya sudah sangat jarang sekali ditemui.
1. Rok Umpet
Rok UmpetSiji loro telu..wis durung? Rok Umpet dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan petak umpet. Salah satu permainan tradisional yang populer hampir di seluruh wilayah Indonesia, tentu saja mungkin dengan nama yang berbeda-beda.
Permainan ini tidak menggunakan alat apapun, namun hanya memerlukan sebuah tembok, pohon atau media yang bisa digunakan untuk membantu menutup mata bagi si lakonnya. Biasanya si-lakon akan menutup mata dan tidak boleh menoleh sebelum hitungannya usai (minimal sampai 10 hitungan). Sementara teman – teman yang lain berusaha untuk bersembunyi agar tidak terlihat oleh si-lakon.
Apabila si-lakon sedang mencari tempat persembunyian teman-temannya, maka yang lain harus lari dan menyentuh tempat si-lakon tadi berjaga. Namun jangan sampai “keduluan” oleh si-lakon. Apabila “keduluan”, maka pada permainan selanjutnya, yang menjadi si-lakon gantian dengan yang tadi kalah dalam adu lari.

2. Rok Ndodok
Rok Ndodok yaitu permainan yang mengahruskan kita jongkok sebelum tersentuh oleh si-lakon. Bagi para pemain, diharuskan menyentuh teman lainnya sebelum jongkok. Jadi kita harus berlari meraih teman lain yang  sedang jongkok untuk kemudian kita bergantian jongkok dan teman kita yang satunya berdiri dan berlari meraih teman lainnya.
Sementara si-lakon mengejar teman yang sedang berlari agar tidak bisa meraih teman lainnya.
3. Rok Mrembet
Permainan ini membutuhkan media tanaman dalam bermain. Karena dalam permainan ini kita diharuskan berpindah tempat dari satu tanaman ke tanaman lain tanpa boleh tersentuh si-lakon. Tanaman yang digunakan boleh apa saja, baik itu rumput, perdu, maupun pohon.
4. Loncat/ Yeye/Semprengan
Permainan ini hampir mirip dengan lompat tali, namun bedanya adalah harus ada partner untuk bermain. Minimal permainan ini membutuhkan 3 orang pemain. Alat yang digunakan adalah karet gelang yang disusun menjadi panjang seperti tali. Disetiap ujungnya dipegang oleh pemain lain.
Karet tersebut direntangkan dan pemain lain diharuskan melewati karet tersebut. Mula-mulanya, karet direntangkan dengan tinggi satu kilan / jengkal. Kemudian setinggi lutut dan pusar. Pada tahap ini, kita diharuskan melewati karet ini tanpa boleh menyentuhnya. Jadi kita harus melompatinya. Sedangkan seletah setinggi lengan, telinga, kepala, dan tangan yang bentangkan ke atas (biasanya disebut “merdeka”) kita boleh  meraihnya menggunakan tangan dan kemudian melompatinya.
Ada hal menarik ketika masuk ke level “merdeka”, biasanya ada beberapa pemain yang menggunakan salto / kayang untuk melewatinya. Apabila gagal dalam satu level, maka pemain yang gagal tersebut bergantian untuk memegang karetnya.

5. Nekeran
In-innanPermainan ini juga tidak kalah populer dengan Rok Ndodok, permainan menggunakan media kelereng / gundu. Ada banyak jenis permainan In-innan. Antara lain kita diharuskan mengenai kelereng lawan dengan menjetikkan kelereng kita agar kelereng lawan jauh dari sasaran. Sasaran yang digunakan biasanya batu atau sebuah lubang. Bagi yang kalah, kelereng tersebut akan menjadi hak milik si pemenang.

6. Glatik
GlatikGlatik, permainan ini menggunakan dua bilah kayu lurus yang panjangnya antara 20 – 30 centimeter. Tujuan permainan ini dalah memukul sejauh-jauhnya kayu tersebut.
Memukulnya pun ada aturannya sendiri. :)


7. Gobag Sodor
Gobag SodorPermainan menggunakan media tanah lapang yang diberi garis batas persegi sekitar 6 x 3 meter yang  nantinya dibagi menjadi sekitar 8 kotak. Pemberian garisnya pun unik, bisa menggunakan kapur, hanya digaris begitu saja dengan kayu, atau dengan pecahan genting.
Ada dua tim, setiap tim minimal memiliki 4 anggota. Satu tim menjaga garis dan tim lainnya berusaha melewati garis tersebut tanpa teresentuh oleh tim lawan. Tim yang dinyatakan menang adalah tim yang berhasil kembali ke titik start tanpa tersentuh oleh lawan.

8. Geplakan
Permainan kartu bergambar ini biasanya populer dimainkan oleh laki-laki. Karena biasanya permainan ini idetntik dengan adu kehebatan. Adapun kartu yang digunakan atau dalam istilah di dalan Bahasa ngapak pemalang “gambaran” adalah kartu dengan gambar tokoh kartun yang berwarna warni. Sedangkan sisi lainnya biasanya bergambar rambu-rambu lalu lintas atau bahkan kosong.
Cara mainnya , kartu diletakan ditelapak tangan dengan gambar menghadap ke depan. Kemudian telapak tangan dengan gambar tersebut diadu dengan lawan. Jadi mirip dengan tos / jos (dalam Bahasa Pemalang). Kemudian aduan telapak tangan dilepaskan hingga kartu tersebut jatuh dengan sendirinya.
Apabila kartu kita jatuh dalam posisi tertelungkup, berarti kartu tersebut menjadi haknya lawan. Namun apabila sama-sama terteulungkup atau terbuka, berarti dikatakan seri.
9. Beklon/bekel
BeklonPermainan ini sama dengan bola bekel dimana menggunakan bola karet/ bola tenis dan objek yang biasa disebut dengan “buah”. Buah tersebut bisa berupa kulit kerang, tutup botol minuman, atau biji permainan congklak yang biasanya berjumlah lima buah.
Permainan ini bisa dilakukan sendiri. Namun agar lebih seru, dilakukan bersama teman yang lain.
Permainan cukup mudah, bola dilontarkan ke atas, sembari dilontarkan, pemain diharuskan membalik buah. Setiap lontaran harus membali satu buah hingga menghadap sisi yang berbeda. Jika semua sisi sudah dibalik semua, kemudian lontaran belikutnya membalik sekitar 2 buah. Dan seterusnya. Pemain akan kalah jika bola tersebut tidak bisa ditangkap.

10. Patahan/platokan
PatahanPermainan ini menggunakan batu pipih dengan ukuran sekitar selebar telapak tangan. Batu yang biasa digunakan adalah batu kali, batu yang cukup keras. Permainan ini dimainkan minimal oleh 2 orang.
Cara permainannya adalah salah satu batu diletakan di atas tanah dalam posisi berdiri. Pada jarak yang sudah ditentukan, lawan harus berusaha menjatuhkan batu tersebut. Caranya adalah bisa dilontar dengan tangan ataupun dengan kaki.

11. Litongan/balang wingka
LitonganMedia yang dipakai bisa berupa pecahan genting ataupun sandal. Pecahan genting atau sandal tersebut disusun ke atas dan jangan sampai jatuh. Nantinya susunan pecahan genting / sandal tersebut dilempar menggunakan bola tenis atau bola yang terbuat dari plastik kresek yang dibuat seperti bola.
Pemain nantinya dibagi ke dalam dua tim. Apabila ada tim yang melempar bola dan menjadikan susunan genting / sandal tersebut jatuh, maka tim pelempar tadi langsung lari. Sedangkan tim yang jaga bertugas mengejar dan melempar anggota tim lawan dengan bola tersebut. Salah satu tim pelempar harus menyusun kembali susunan tersebut namun tentu saja harus menghindari dari lemparan bola.
Permainan akan berhenti jika susunan sudah tersusun dengan sempurna.

12. Layangan
Permainan ini bisa dimainkan baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan. Hanya berbekal layangan kertas dan segulung benang kita sudah bisa memainkan permainan ini. Permainan ini banyak dilakukan pada saat hampir masuk musim kemarau. jadi ketika kondisi angin yang cukup kencang namun tidak kering.
Benang yang digunakan bisa menggunakan benang biasa atau disebut “senar” dan adapula yang menggunakan benang gelasan. Untuk benang gelasan, sifatnya tajam dan permukaannya kasar. Jadi benang ini sangat sering digunakan sebagai aduan. Agar lebih hemat, benang gelasan dipasang di layangan, kemudian baru disambung dengan Senar biasa.
Ada cara-cara aneh untuk mememangkan permainan ini. Salah satunya adalah memasang obat nyamuk bakar dalam keadaan menyala atau silet di ujung layangan. Jadi apabila benang lawan terkena benda tersebut, dipastikan akan putus.
13. Perang-perangan
Permainan ini cukup sederhana, karena menggunakan media dari pelepah pisang. Pelepah pisang dibentuk hingga menjadi pistol, senapan, maupun pedang. Cukup mudah bukan?
14. Gangsing / Gasing
Gangsing / gasing ini dibeberapa daerah yang ada di tegal menggunakan “Bluruk / Bluluk” atau buah kepala yang masih sangat muda. Seukuran dengan buah rambutan. pada bagian ujungnya ditusuk lidi dan dililit dengan karet gelang.
Cara memainkannya sama dengan permainan Gangsing pada biasanya. Namun untuk gangsing ini perlu keahlian khusus, karena bentuknya yang kecil dan talinya yang pendek.
15. Tulup
Tulup atau biasanya disebut dengan sumpit. Permaian tradisional ini menggunakan bambu kecil yang cukup panjang, sekitar 30 centimeter. Untuk pelurunya menggunakan biji dari pohon kapuk randu.
Agar peluru bisa tepat sasaran, pilihlah bambu yang lurus. Bambu yang digunakan pun dari pohon bambu khusus. Biasanya disebut “Pring Pethung”. Ciri-cirinya adalah diamater bambunya lebih kecil dan jarak antar ruas lebih panjang.
16. Jeplokan/pak-pak door
JeplokanJeplokan, bambu yang digunakan sama dengan Tulup. Namun ditambahkan sebilah bambu yang sudah di rapihkan agar bisa masuk ke dalam lubang bambu induknya.
Cara bermainnya cukup mudah, siapkan kertas yang terlebih dahulu direncam dengan air, hingga kertas menjadi sedikit lembek. Lalu buat peluru dengan kertas tersebut. Pastikan ukuran peluru pas dengan lubang tersebut. Cara memainkannya tinggal dipompa saja dengan keras. Peluru kertas pun akan keluar melesat dengan kencang. Menarik bukan?

17. Jeblugan/meriam bumbung
JebluganPermainan ini sangat sering dimainkan apabila masuk bulan puasa. Jeblugan ini mirip dengan meriam, namun bedanya, Jeblugan tidak mempunyai peluru. Jeblugan terbuat dari bambu yang memiliki diameternya besar dan tebal. Setiap ruas bagian dalamnya diberi lubang yang cukup besar, hingga meninggalkan satu ruas yang masih tertutup. Pastikan ruas tersebut nantinya berada di bagian pangkal.
Di dekat ruas yang tertutup tadi, dibuat lubang yang cukup besar. Lubang tersebut nantinya dimasukan sedikit karbit. Karbit tersebut disiram minyak tanah. Untuk memainkannya, lubang tersebut diberi hawa panas. Lalu otomatis Jeblugan tersebut mengeluarkan dentuman keras. Namun harus hati-hati dalam memainkan permainan ini.

18. Mini-minian/ BB mini
Setelah identik dengan mainan para laki-laki, kini ada mainan khusus perempuan. Salah satunya Mini-minian. Permaianan ini adalah gambar 2 dimensi yang biasanya berbentuk manusia. Yang bisa diganti-ganti baju dan aksesorisnya.
Untuk baju dan aksesorisnya biasanya jadi satu dengan gambar manusia tersebut. Pada saat membeli permainan ini, masih dalam keadaan lembaran utuh dengan pola untung memotong agar tidak salah potong.
19. Jangkar/oglong
jangkarJangkar di sini bukan jangkar kapal lho, tetapi permainan dengan menggunakan pecahan genting ataupun uang koin. Para pemain diharusnya lompat dari kotak satu ke kotak lainnya tanpa boleh menyentuh garis yang sudah dibuat. Biasanya garis yang dibuat menyerupai rumah lengkap dengan tangga.
Permainan ini sangat butuh keseimbangan. Karena apabila pemain jatuh dan kaki satunya menyentuh tanah, maka pemain dianggap kalah.

20. Endog-endogan
“Endog -endogan pecah siji pecah kabeh…”
Begitulah sebait lagu dari permainan Jawa Tradisional ini. Permainan yang dilakukan oleh beberapa anak ini tidak menggunakan alat apapun, hanya menggunakan media punggung dari salah seorang pemain.
21. Cublek-cublek Suweng
Permainan ini termasuk juga di permaianan Jawa Tradisional. Permainan ini sangat sederhana, hanya bermodalkan gundukan tanah kecil, dan beberapa potong lidi.
Gundukan tanah tersedut pada ujungnya diberi potongan lidi pendek. Sembari bernyanyi, para pemain sedikit demi sedikit mengais gundukan tanah tersebut menggunakan lidi. Usahakan lidi pada ujung gundukan tidak sampai jatuh.

Setiap permaianan tradisional tersebut biasanya dimainkan ketika libur sekolah. Paling sering dilakukan ketika malam minggu. Dimana ketika saat itu belum ada tontonan TV sebanyak sekarang. Permainan tersebut juga memiliki banyak sekali pelajaran anatar lain sportifitas, kejujuran, kebersamaan, kesederhanaan, dan masih banyak lagi lainnya. Dan yang pasti membuat anak menjadi sehat jiwa dan rohaninya.
Sdudah saatnya kita perkenalkan kembali permainan – permainan tradisional tersebut kepada anak- anak ataupun adik -adik kita. Sehingga mereka juga tau akan kekayaan permainan tradisional yang tdaik kalah dari permainan modern.
Nah lestarikan permainan ini ya, Insya Allah penuh dengan nilai pendidikan bukan hanya sekedar bermain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar